Catatan yang tertinggal menjelang kelahiran Fathimah…
Malam kian mengelam saat aku didekap kesendirian di ruang tengah rumahku ini. Tidak ada hasrat mata ini untuk terlelap karena pikiranku teringat dan terkenang kepadamu,
Cinta. Aku tahu, saat ini kau telah tertidur lelap bersama mimpi indahmu ditingkahi tendangan dan pukulan kecil Dede yang sebentar lagi akan meramaikan rumah kita ini. Aku pun tahu, hari ini engkau telah menjalani sebuah perjalanan yang terlampau jauh. Menelusuri jalanan Ibukota yang disesaki kendaraan, menelusuri jalanan pasar yang becek demi terlepasnya rasa lapar dan dahaga yang melilit, lelah dan terlelap di ruang tunggu rumah sakit demi melihat senyum Dede dalam layar USG dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Maafkan aku, Cinta, Maafkan. Engkau tahu, aku telah terpenjara oleh Chickenpox dalam dua minggu ke depan sehingga aku tidak dapat menemanimu berjuang sekuat tenaga untuk Dede tercinta. Tapi, kujanjikan dalam hati, kelak bila Dede telah lahir, aku akan ceritakan kepadanya kisah-kisah mujahadahmu mengarungi semua rintangan, tantangan dan hambatan demi memberikan yang terbaik buat dia. Aku yakin, ia akan bangga dengan Umminya tersayang dan ia pun akan berjanji untuk memberi yang terbaik untukmu, Ummi yang dikasihinya.
Terus terang, Cinta, mata ini telah sembab oleh bulir air mata hangat yang tidak bisa disembunyikan lagi. Ditengah persiapan kita menyambut buah hati pertama kita, Allah SWT memberi aku sebuah penyakit yang akhirnya memisahkanku darimu. Padahal, malam-malam sebelum ini adalah malam-malam terbaik dalam kehidupan saat kita bersama merangkai mimpi dan asa indah untuk hidup kita dan anak kita di tahun yang baru ini.
Entahlah, apakah ini sebuah ujian atau teguran dari-Nya. Yang pasti, dalam keterpisahan ini, tetaplah jalin doa rabitah sebagai pengikat hati kita bersama. Bangunlah kembali kemulian-kemulian amalan sunnah yang selama ini kita abaikan. Dan, jagalah shalat dan tilawah Al-Quran sebagai interaksi kita dengan Allah SWT.
Cinta, sebentar lagi adalah milad pertama pernikahan kita. Aku mohon kepadamu untuk bersama membuka hati dan saling memaafkan bila selama satu tahun ini ada sikap dan kata yang tersalah. Pernah aku memarahimu tanpa memberi kesempatan kepadamu untuk membela. Hebatnya, engkau sama sekali tidak melawan kemarahan itu dengan kemarahan dan hanya terdiam dan menangis. Pernah aku berlebihan dalam mencemburuimu dengan yang lain. Pernah aku membiarkanmu melakukan pekerjaan rumah sementara aku hanya santai saja. Pernah aku…Pernah aku….Wah…banyak kesalahanku kepadamu dan kupohonkan maaf darimu.Engkau adalah bidadari yang Allah hadirkan didalam hidupku tatkala nafasku sudah hampir tercerabut karena putus asa. Engkau adalah anugerah terindah dari-Nya yang akan selalu kujaga.