Bulan baru, semangat baru. 

Lagu dibawah ini adalah gubahanku untuk bidadari kecilku yang imut dan lucu.

Oh Bidadariku 

Saat kumelihat dirimu

Indah kedua matamu

Hilanglah semua gundah

Redam seluruh gelisah 

Saat kumelihat dirimu

Indah senyum dan tawamu

Gilap semua sedihku

Seka air mataku 

Ref : 

Oh Bidadariku

Tetaplah kau disisiku

Temani setiap nafasku

Iringi setiap langkahku  

Oh bidadariku

Tetaplah senyum terkembang

Walau rintangan menghadang

Takkan pernah bimbang

Catatan yang tertinggal menjelang kelahiran Fathimah… 

Malam kian mengelam saat aku didekap kesendirian di ruang tengah rumahku ini. Tidak ada hasrat mata ini untuk terlelap karena pikiranku teringat dan terkenang kepadamu,

Cinta. Aku tahu, saat ini kau telah tertidur lelap bersama mimpi indahmu ditingkahi tendangan dan pukulan kecil Dede yang sebentar lagi akan meramaikan rumah kita ini. Aku pun tahu, hari ini engkau telah menjalani sebuah perjalanan yang terlampau jauh. Menelusuri jalanan Ibukota yang disesaki kendaraan, menelusuri jalanan pasar yang becek demi terlepasnya rasa lapar dan dahaga yang melilit, lelah dan terlelap di ruang tunggu rumah sakit demi melihat senyum Dede dalam layar USG dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Maafkan aku, Cinta, Maafkan. Engkau tahu, aku telah terpenjara oleh Chickenpox dalam dua minggu ke depan sehingga aku tidak dapat menemanimu berjuang sekuat tenaga untuk Dede tercinta. Tapi, kujanjikan dalam hati, kelak bila Dede telah lahir, aku akan ceritakan kepadanya kisah-kisah mujahadahmu mengarungi semua rintangan, tantangan dan hambatan demi memberikan yang terbaik buat dia. Aku yakin, ia akan bangga dengan Umminya tersayang dan ia pun akan berjanji untuk memberi yang terbaik untukmu, Ummi yang dikasihinya. 

Terus terang, Cinta, mata ini telah sembab oleh bulir air mata hangat yang tidak bisa disembunyikan lagi. Ditengah persiapan kita menyambut buah hati pertama kita, Allah SWT memberi aku sebuah penyakit yang akhirnya memisahkanku darimu. Padahal, malam-malam sebelum ini adalah malam-malam terbaik dalam kehidupan saat kita bersama merangkai mimpi dan asa indah untuk hidup kita dan anak kita di tahun yang baru ini.

Entahlah, apakah ini sebuah ujian atau teguran dari-Nya. Yang pasti, dalam keterpisahan ini, tetaplah jalin doa rabitah sebagai pengikat hati kita bersama. Bangunlah kembali kemulian-kemulian amalan sunnah yang selama ini kita abaikan. Dan, jagalah shalat dan tilawah Al-Quran sebagai interaksi kita dengan Allah SWT. 

Cinta, sebentar lagi adalah milad pertama pernikahan kita. Aku mohon kepadamu untuk bersama membuka hati dan saling memaafkan bila selama satu tahun ini ada sikap dan kata yang tersalah. Pernah aku memarahimu tanpa memberi kesempatan kepadamu untuk membela. Hebatnya, engkau sama sekali tidak melawan kemarahan itu dengan kemarahan dan hanya terdiam dan menangis. Pernah aku berlebihan dalam mencemburuimu dengan yang lain. Pernah aku membiarkanmu melakukan pekerjaan rumah sementara aku hanya santai saja. Pernah aku…Pernah aku….Wah…banyak kesalahanku kepadamu dan kupohonkan maaf darimu.Engkau adalah bidadari yang Allah hadirkan didalam hidupku tatkala nafasku sudah hampir tercerabut karena putus asa. Engkau adalah anugerah terindah dari-Nya yang akan selalu kujaga.

Siang yang cerah di Bandara Polonia. Aku tengah duduk menikmati makan siangku di sebuah restoran. Seorang anak berbaju lusuh berkopiah putih menghampiriku. Aku pun merogoh saku dan mengambil selembar uang seribu rupiah. Dengan pandangan penuh harap, ia menatapku dan berkata ‘Kak, aku ingin beli makan’. Aku tersentak. Bukan karena permintaan ‘tambahan’ itu, tapi baru kali ini aku diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memberi makan seorang dhuafa. Aku pun memanggil seorang pelayan disitu untuk menyediakan nasi goreng, persis seperti yang aku makan. Sang Anak kembali berujar ‘bolehkah saya mengajak teman-temanku?” Aku tambah kaget. Belum hilang kekagetanku, dua anak kecil yang lain datang mengiringi sang anak tadi. Ya Allah. Sementara uang yang ada di dompet ini sebenarnya ingin aku belikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Akhirnya aku pesankan total tiga porsi nasi goreng special dan teh botol.  

Tak berapa lama aku bergegas menuju tempat check-in Airport Polonia. Walaupun jadwal penerbangan masih lama, tapi aku lebih nyaman untuk menunggu di dalam airport.  

“Ke Jakarta, Pak” Tanya check-in staf yang menerimaku.

“Iya, Bu. Masih lama ya? Belum buka?” Tanyaku memastikan. Waktu penerbangan memang masih sekitar tiga jam lagi.

“Ada bagasi, Pak?” Tanyanya lagi.

“Tidak ada, Bu. Tas koper pakaian ini saya bawa ke pesawat saja”. 

Tiba-tiba Check-in staf itu berbicara dengan supervisornya mendiskusikan sesuatu.

Kemudian ia menghampiriku lagi. 

“Begini Pak. Kebetulan ada satu penumpang yang cancel penerbangannya. Sekarang pesawat sudah siap. Kalau Bapak mau, bapak bisa boarding. Lima belas menit lagi berangkat, Bagaimana Pak?” 

Aku kaget. Tanpa berpikir lagi, aku mengiyakan tawaran itu dan bergegas ke tempat pembayaran airport tax, masuk security screening dan langung berlari menuju tempat keberangkatan. 

Di dalam pesawat, aku merenungi apa yang baru saja aku alami. Subhanallah. Baru saja aku menolong tiga orang anak kecil dhuafa yang kelaparan dan Allah SWT langsung memudahkan perjalananku pulang ke Jakarta.

Kisah “Shadaqah Miracle” seperti ini sebenarnya sudah sering aku dengar dari uraian Ust. Yusuf Mansur. Tetapi baru sekarang aku mengalami ‘keajaiban’ itu. Subhanallah.

Doa ini sebenarnya terungkap saat akhir Ramadhan kemarin.

Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua. 

Dengan Asma-Mu Yang Maha Pengasih Maha Penyayang 

Ya Allah, Ramadhan-Mu sebentar lagi akan meninggalkanku. Padahal, tidak banyak bekal amal yang telah aku kumpulkan pada bulan ini. Kelalaianku akan gemerlap dunia dan kemalasan diri yang tak kunjung pergi mengikatku erat dalam kegagalan.

Ya Allah, aku sangat malu padaMu karena ladang amal yang luas ini tidak aku gunakan dengan baik. Padahal aku belum tahu apakah Ramadhan tahun depan belum tentu aku jumpai lagi.  

Ya  Allah. Biarkan aku mengais sisa sisa berkah Ramadhan yang masih terhidang di beberapa hari terakhir. Walaupun akhirnya dahaga panjangku ini belum lagi terpuaskan. Walaupun akhirnya derajat taqwa belum lagi aku raih. 

Ya Allah. Jangan biarkan kesulitan kesulitan yang kini aku hadapi menjauhkanku dariMu. Jadikanlah semua rintangan ini menjadi bagian dari sujud-sujudku ditengah kesunyian. Jadikan semua kekurangan ini menjadi bagian dari munajat-munajatku di sepertigamalam terakhir. 

Ya Allah. Terangi jalan hidupku yang saat ini masih gelap gulita. Tunjukkan padaku jalan maisyah yang dapat menebar manfaat untuk ummat. Jalan maisyah yang berkah untuk keluargaku. Angkatlah aku dari jalan maisyah yang penuh syubhat. Ketika halal dan haram tidak lagi diindahkan. 

Ya Allah, ajari kami untuk bersyukur atas setiap nikmat yang Engkau karuniakan. Agar kami tidak terlalu kecewa terhadap apapun yang luput dari kami.

Apple memang banyak menarik banyak orang. Produk revolusionernya seperti pemutar musik iPod dan ponsel iPhone bukan saja laris manis di pasaran tapi juga menjadi ‘spesies’ gadget baru yang kemudian diikuti oleh produsen gadget lain. Lebih dari itu, brand image yang kuat membuat gadget-gadget berlogo ‘apel coak’ ini membentuk komunitas-komunitas ekslusif para penggilanya di seluruh dunia. 

Salah satu gadget impian saya adalah MacBook. Bukan saja karena desain luarnya yang cantik tapi juga ‘isi’nya yang melimpah. Selain tampilan MacOS X yang ciamik, Safari untuk berselancar lebih cepat, dua software andalan Apple yaitu iLife dan iWork cukup menfasilitasi kebutuhan saya untuk kerja dan hiburan. Namun demikian, karena saya sudah punya Laptop produknya Engko Stan Shih terlebih dahulu, saya memendam niat untuk meminang gadget keluaran Pak Steve Jobs ini. 

Kerinduan kepada MacBook akhirnya sedikit terobati saat saya melihat-lihat isi CD PCMedia keluaran beberapa bulan yang lalu. Salah satu programnya, FlyaKite OS, merupakan sebuah program Desktop Themes terpadu yang mengganti tampilan desktop persis seperti MacOS termasuk Aplikasi Dock dibagian tengahbawah. Selain itu ada juga Aplikasi Tiger System Preference, macam Control Panel ala Mac.  Mau Coba? Silakan unduh program Flyakiteosxtransformation packnya di www.flyakiteosx.com

Setiap sore aku pulang dari tempat kerja, aku acapkali bertemu dengan seorang Bapak tua yang menjajakan harian sore di sebuah perempatan jalan. Rambutnya sudah memutih. Keriput di wajahnya pun menampakan usianya yang telah senja. Namun demikian, tidak nampak lelah terpancar dari raut mukanya. Dia selalu tersenyum. Memperlihatkan berita terkini kepada kendaraan-kendaraan yang tengah berhenti menunggu lampu merah.

Terus terang, aku selalu salut dengan perjuangan orang-orang disekitarku seperti Bapak itu. Seolah mereka mengajarkan banyak hal tentang kehidupan ini. Tentang kesederhanaan. Tentang ketabahan hidup. Tentang perjuangan yang tak pernah henti.

Bila aku sampai di rumah dan makan malam telah tersedia dengan lezatnya, mungkin tidak untuk Bapak itu. Dengan waktu berjualan yang singkat, entah berapa rupiah yang ia dapatkan. Entah berapa bungkus nasi yang dapat ia beli dan dibawa pulang. Padahal istri dan anaknya merindukan kehadirannya bersama hasil jerih payahnya itu. Aku membayangkan ketika Bapak itu pulang, istrinya menunggu di depan gubuk yang sederhana. Mencium tangannya. Dan ketika masuk ke dalam tempat bernaungnya itu, anak-anaknya menyambutnya dengan hangat. Dan mereka membuka bersama makan malam yang sederhana. Mungkin tanpa daging. Mungkin tanpa lauk. Tapi yang pasti, kenikmatan yang terasa tiada terkira. Karena mereka menikmatinya hidangan sederhana itu dengan cinta. :)

Ini adalah salah satu lagu pengantar tidur untuk buah hati kami, Fathimah Adzkiya Fitriani. Lirik dan nadanya terungkap begitu saja ketika kami coba menidurkannya. Saya rekam dengan SE M600i kesayangan sehingga format audionya AMR kemudian dikonversi menjadi MP3 dengan program Mobile Media Converter. Silakan download MP3-nya disini

http://www.ziddu.com/download/2796450/tidurlah.mp3.html

 Berikut lirik lagunya :

 Tidurlah 

Tidurlah, tidurlah sayang

Tidurlah, tidur yang nyenyak

Mimpilah, mimpi yang indah

Bersama Abi, bersama Ummi 

Ref : 

Bersama kita terbang

Menembus angkasa raya

Bermain bersama bintang

Berdendang bersama rembulan

Puisi ini saya kirimkan ke Cybersastra beberapa tahun yang lampau. Tak dinyana, setelah bertahun berselang, puisi ini banyak bermunculan di berbagai blog. Subhanallah. Agak telat menampilkannya disini. Tetapi tidak mengapa. Karena para bloggers ternyata menghormati sang empunya puisi dengan menampilkan namaku diujung puisinya. Terima kasih.

Aku bertanya kepada alam

Apa itu cinta

Dan
Mentari menjawab
Cinta adalah ketulusan memberi tanpa berharap untuk menerima
Memberi kehangatan kepada mereka yang diterjang beku
Memberi terang kepada mereka yang terjebak gelap
Cinta adalah memilah bulir kejernihan
Dan mengirimnya ke ladang yang tandus
Dan turun menemui dedaunan pagi sebagai bulir sejuk embun

Dan
Pohon menjawab
Cinta adalah jemari kasih yang menghunjam kokoh ke dalam sanubari kehidupan
Cinta adalah keteguhan hati diterpa angin semakin kau menumbuhkannya
Cinta adalah rindang tempat kau berlindung dari terik perjalanan
Cinta adalah kelapangan jiwa ketika kau mampu memberi
buah kebaikan walau kau dilontar oleh batu keburukan

Dan
Angin menjawab
Cinta adalah kekuatan
Yang dapat menghantarkan biduk citamu menuju pantai harapan

Dan
Tanah menjawab
Cinta adalah keikhlasan
Ketika saripati kasihmu membuahkan beragam makanan
Tatkala kau diinjak dan diludahi

Dan
Samudera menjawab
Cinta adalah sebuah misteri
Kau hanya akan mendapatkan keindahannya
Jika kau benar-benar menyelami ke dasarnya

Dan
Lilin menjawab
Cinta adalah pengorbanan
Ketika kau mampu memberikan semua yang terbaik demi terang terpercik
Menuntun mereka untuk mendapatkan titian hidup yang benar  

Dan
Bunga menjawab
Cinta adalah ketelatenan dalam menumbuhkan,
mengembangkan dan menjaga
Selalu menyiraminya dengan air dan matahari

Dan
Ketika semua sisi alam seolah berlomba untuk mengungkapkan jawabannya
Aku bertanya pada diriku sendiri :
Sudahkah aku mencintai ? 

Andri Fitriyadi

Medio 2001

Langit baru saja mencurahkan isi hatinya yang telah ia pendam sejak lama. Deraiannya menyeruak menerpa setiap sudut bumi yang tengah tercekik paceklik. Dahaga yang selama ini menyiksa bumi akhirnya terpuaskan. Semua bergembira. Anak kecil yang menjajakan sewaan payung bersorak karena ada rejeki untuk makan malam sore ini. Kodok pun bernyanyi riang karena bisa kembali berenang di tepi danau.

Aku pun bersenang hati. Karena di rumah, bidadari kecilku pasti tengah bercanda di beranda menikmati alunan titik titik air yang jatuh dari atap.

Itulah hidup semestinya dimaknai. Dibalik derai air mata yang tertumpah pasti ada senyum renyah dan ramah menanti.  

Kehidupan telah mengajarkanku berjuta hikmah yang begitu berlimpah. Kumpulan-kumpulan pengalaman yang tersusun begitu rupa layaknya mozaik yang berwarna-warni sebagai perhiasan diri dimasa depan. Langkah demi langkah yang dilalui adalah simfoni yang tersusun atas dua kutub kehidupan. Ada tangis, ada tawa. Ada cinta, ada benci. Ada gembira, ada nestapa. Ada hidup, ada mati. Sungguh, Maha Besar ALLAH Yang Maha Pencipta Segala Berpasang-pasangan.

Aku sebenarnya merasa rugi bahwasannya seluruh langkah itu tidak terekam dengan baik dalam bentuk tulisan. Sebagaimana lembar-lembar kertas yang tercerai berai, aku ingin sekali memunguti semua lembar kisah hidupku dan merangkumnya dalam sebuah catatan perjalanan. Barangkali ada diantara sahabat yang bertanya, mengapa aku harus bersusah payah meluangkan energi dan fikiranku untuk melakukan hal itu? Jawabnya, itu adalah sebuah kewajiban dari setiap manusia. Mengapa? Karena, sebagai ahsani taqwim (the best creatures), manusia dituntut dapat mempergunakan akalnya untuk mengevaluasi diri. Menatap masa lalu dan menggali sekecil apapun ibrah yang ada didalamnya. Bukankah Masa lalu adalah cermin buat kita untuk berbuat lebih baik?

Selain itu, aku juga ingin menggunakan media ini sebagai wadah pemikiranku dalam menatap masa depan. Karena apa yang akan kita dapatkan di masa depan bergantung kepada apa yang kita lakukan hari ini.

Semoga ALLAH SWT menguatkan tekadku dalam merealisasikan usaha mulia ini.